Menuruti Rasa Iri Atau Mensyukuri Hidupmu

Pahami fakta itu sebagai antidote yang akan menawarkan racun yang ditebar oleh perasaan iri dengki yang merayapi relung hatimu. Iri bisa jadi inspirasi dan kekuatan yang memotivasi kita demi menggenjot prestasi.

Lihat juga :  Salah Satu Dampak Media Sosial Bagi Hubungan Suami Istri

Tapi iri lebih banyak membakar hati dan memicu hasut. Tak ada yang salah dengan rasa iri, asalkan anda menyempurnakan perasaan itu dengan perenungan: aku pengin seperti dia. Tapi sanggupkah aku menjalani pedih perih dan kehinaan yang selama ini dialaminya?

Kuatkah aku menerima cobaan panjang berliku dan pengorbanan lahir batin yang selama ini ditempuhnya? Teguhkah hatiku untuk istiqomah tetap rendah hati jika sukses seperti dia? Tebalkah nyaliku nenepis fitnah dan cobaan baru yang menyusul di belakang sukses yang gemilang?

Kalau jawabaannya sudah Anda dapatkan, silakan anda putuskan: menuruti rasa iri tersebut atau mensyukuri hidupmu yang bersahaja tapi penuh rahmat dan minim gejolak dan cobaan. Hal-hal semacam ini mungkin tak pernah anda pikirkan.

Menuruti Rasa iri atau Mensyukuri Hidupmu.